JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 2.3 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK
ARIF KHAMDI, M. Pd.
CGP ANGKATAN 9
KOTA TANGERANG SELATAN
Assalamualaikum w.w.
Salam sehat dan bahagia
Pada kesempatan ini saya akan menulis tentang apa yang sudah saya lakukan pada pendidikan Guru penggerak di materi Modul 2.3 yaitu tentang Coaching untuk Supervisi Akademik
Jurnal refleksi ini harus dituangkan ke dalam jurnal refleksi setiap saya menyelesaikan materi setiap modul. Jurnal refleksi ini merupakan tugas yang wajib dikerjakan pada pendidikan guru penggerak oleh semua Calon Guru Penggerak. Saya menuliskan kegiatan refleksi ini dengan menggunakan model 4F yaitu:
- Facts (Peristiwa)
- Feelings (Perasaan)
- Findings (Pembelajaran)
- Future (Penerapan)
Berikut satu persatu refleksi saya tentang modul 2.3 :
- Facts (peristiwa)
Modul 2.3 membahas mengenai coaching dalam Supervisi Akademik. Modul ini dimulai tanggal 17 November 2023. Pada Modul ini melalui eksplorasi konsep yang membagi 4 Sub Pembelajaran, yaitu:
- Konsep Coaching secara Umum dan dalam Konteks Pendidikan,
- Paradigma Berpikir dan Prinsip Coaching,
- Kompetensi Inti Coaching dan Alur Percakapan Coaching TIRTA,
- Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching.
Coaching adalah proses kolaborasi yang berorientasi pada solusi, hasil, dan sistematis. Dalam coaching, seorang coach membantu coachee untuk meningkatkan kinerja kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi. Selain itu, International Coach Federation mendefinisikan coaching sebagai bentuk kemitraan dengan coachee untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional melalui proses yang merangsang pemikiran dan kreativitas.
Melalui tugas di Sub Pembelajaran, saya mendapatkan pengalaman berharga dalam memahami coaching. Tugas Ruang Kolaborasi, yang terdiri dari latihan dan praktik coaching, memberikan pengalaman menarik dalam memainkan peran sebagai coach dan coachee. Pada tanggal 24 November 2023 proses ruang kolaborasi pertama di modul ini. Pada sesi ini Bapak Muhammad Arsad sebagai fasilitator memandu kami, untuk berlatih mempraktikkan coaching. Kelas kami telah dibagi menjadi lima kelompok ( 5 Bor) . Dan saya dengan Ibu Heny terpilih pada Bor 2. Kami melakukan praktik coaching. Awalnya saya sebagai coach. Ibu Heny sebagai coachee. Saat praktik, Bu Heny sebagai coachee menyampaikan permasalahannya tentang kedisiplinan para guru untuk memenuhi tanggung jawab dalam kegiatan P5. Dan pada saat saya praktik menjadi coachee, membahas tentang kesadaran belajar di rumah bagi Sahla (anak saya) sebagai siswa di sekolah. Dan alhamdulillah pada latihan coaching ini saya mendapatan sesuatu yang berkesan terkait coaching.
- Feelings (perasaan)
Pada Modul ini saya sangat bersemangat tentang coaching. Pada awalnya saya penasaran, bagaimana menjadi coach yang baik dan kompeten. Namun pada kenyataannya semua bisa terjawab setelah memahami dan praktik, serta berdiskusi dalam ruang kolaborasi dan LMS.
Modul ini telah memberikan pencerahan yang luar biasa bagi perkembangan diri saya dalam dunia coaching dan supervisi akademik. Saya tidak hanya merasa senang, lega, dan termotivasi, tetapi juga merasa sangat yakin dan siap untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip coaching ke dalam praktik pendidikan. Saya melihat coaching sebagai alat yang kuat untuk membantu kami sebagai pendidik menghadapi berbagai tantangan yang mungkin muncul dalam perjalanan pendidikan. Selain itu, saya merasa semakin percaya diri dalam berinteraksi dengan rekan sejawat, menciptakan ruang kolaboratif yang memungkinkan kita saling mendukung, berbagi ide, dan tumbuh bersama sebagai komunitas pembelajaran yang kuat.
Saya juga merasa semakin termotivasi untuk mencari solusi kreatif dalam mengatasi permasalahan yang mungkin timbul di sekolah. Modul ini mengajarkan saya bahwa coaching bukan hanya tentang memberikan jawaban, tetapi juga tentang memungkinkan coachee (yang sedang dibimbing) untuk menemukan solusi mereka sendiri melalui pemikiran dan refleksi yang mendalam. Ini adalah pendekatan yang sangat memperkaya dan mendalamkan pengalaman pembelajaran kami sebagai pendidik, dan saya sangat bersemangat untuk menjalankannya dalam praktik sehari-hari.
- Findings (pembelajaran)
Pada modul ini memberikan saya begitu banyak pengetahuan, pengalaman, wawasan dan pembelajaran. Pembelajaran bagaimana menjadi coache yang baik dan bagaimana melakukan supervise akademik yang baik. Di modul ini, saya diajak untuk meninjau ulang keseluruhan materi pembelajaran pada setiap modul guru penggerak yang pernah dipelajari, mulai dari konsep Ki Hajar Dewantara tentang tujuan pembelajaran, tentang peran dan nilai guru penggerak, tentang pembelajaran berdiferensiasi yang berkaitan juga dengan Pembelajaran Sosial dan Emosional yang semuanya berkaitan dengan coaching dan supervise akademik. Dan di antara pembelajaran yang saya dapatkan di antaranya:
- Memahami bahwa coaching sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi,berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja,pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee.
- Dalam melakukan coaching yang dibangun adalah kemitraan antara coach dan coachee sehinggadalam proses coaching terdapat ikatan hati dan kasih persaudaraan sesuai denganparadigma among Ki Hadjar dewantara.
- Coach menuntun coachee untuk menemukan solusi dari permasalahannya dengan pertanyaan-pertanyaan berbobot yang diberikan oleh coach.
- Alur percakapan yang digunakan dalam coaching diantaranya adalah alur TIRTA yaitumenanyakan tujuan yang ingin dicapai coachee, identifikasi, rencana aksi, dan tanggung jawab.
- Proses coaching yang berhasil akan menghasilkan kekuatan bagi coach dan coache untuk mengembangkan diri secara berkesinambungan.
- Future (penerapan)
Sebagai seorang guru, saya tentunya sering menjumpai banyak permasalahan di lapangan yang terkait dengan potensi para murid dan mungkin rekan sejawat. permasalahan tersebut sering kali menjadi salah satu penghambat kemajuan seseorang dalam mencapai tujuannya, bahkan mereka bisa saja tidak sadar akan kemampuan dan kekuatan yang mereka miliki untuk menyelesaikan permasalahannya. Oleh karena itu, coaching sangat perlu dilakukan untuk bisa membantu mengatasi permasalahan tersebut.
Saya merasa termotivasi dan siap untuk mengaplikasikan kompetensi inti coaching dalam praktik sehari-hari sebagai pendidik. Pertama, saya bertekad untuk menjadi lebih hadir secara penuh dalam setiap percakapan coaching. Saya memahami pentingnya memberikan perhatian sepenuhnya kepada coachee, sehingga mereka merasa didengar dan dihargai. Selanjutnya, saya akan aktif dalam mendengarkan, memberikan ruang bagi coachee untuk berbicara, dan benar-benar mencerna apa yang mereka sampaikan. Saya percaya bahwa mendengarkan aktif adalah kunci untuk memahami kebutuhan dan tantangan coachee.
Selain itu, saya akan mengembangkan kemampuan saya dalam mengajukan pertanyaan yang relevan dan berbobot. Saya akan memastikan bahwa pertanyaan-pertanyaan ini dirancang untuk merangsang pemikiran coachee, membantu mereka menggali solusi, dan mendorong refleksi yang lebih dalam. Saya juga akan memanfaatkan prinsip coaching, seperti kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi, dalam setiap interaksi saya dengan coachee. Saya yakin bahwa dengan menerapkan prinsip-prinsip coaching ini, saya dapat menciptakan pengalaman pembelajaran yang bermakna dan berdampak positif bagi coachee.
Selanjutnya saya akan mengimplementasikan rangkaian supervisi akademik yang mengadopsi paradigma berpikir coaching. Saya juga berkomitmen untuk terus mengasah kemampuan coaching saya melalui latihan dan praktek dengan rekan sejawat dan murid. Dengan demikian, saya dapat terus berkembang sebagai pendidik yang efektif dan mendukung pertumbuhan coachee saya.
Demikianlah Jurnal Dwi Mingguan Modul 2.3
Salam Guru Penggerak !!!
Tergerak, Bergerak dan Menggerakkan
Wassalamualaikum w.w.