Jejak Hangat Penyelia TKA. Selasa, 28 April 2026 menjadi hari yang terasa berbeda. Bukan sekadar penutup tugas sebagai penyelia TKA, tetapi juga penutup dari serangkaian pengalaman yang diam-diam membentuk cara pandang saya tentang kerja, tentang kolaborasi, dan tentang makna menjadi bagian dari dunia pendidikan.
Menjadi penyelia bukanlah tugas yang ringan. Di balik tanggung jawab mengawal mulai tanggal 6 April pelaksanaan TKA pada 36 sekolah SMP dan 29 sekolah SD yang dipantau, ada tuntutan untuk selalu fokus, teliti, dan sabar. Tiga hal yang terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya sering kali menguji batas diri. Sebab yang kita hadapi bukan hanya sistem, melainkan manusia dengan segala dinamika, kebiasaan, dan latar belakangnya. Baca: https://www.kompasiana.com/agus_oloan/69d4c86dc925c43cec0299c2/tugas-utama-tim-penyelia-pada-tka-tingkat-smp-dan-sd
Rutinitas setiap malam menjadi bagian yang tak terpisahkan. Membuat grup WhatsApp, memasukkan nomor pengawas satu per satu, lalu membuka komunikasi dengan penuh kesantunan. Sapaan sederhana seperti, “Assalamualaikum wr. wb. Mohon maaf mengganggu waktunya Bapak/Ibu…” bukan hanya formalitas, melainkan upaya membangun kedekatan sejak awal. Dari situlah harapan akan kerja sama yang hangat dan profesional mulai disemai. Baca: https://www.literasitinta.com/guru-teladan-di-era-milenial/
Namun, perjalanan tentu tidak selalu mulus. Ada kalanya kita berhadapan dengan pengawas yang sulit dihubungi, bahkan hingga waktu pelaksanaan berlangsung. Pernah suatu hari, seorang pengawas tidak memberikan kabar sama sekali, hingga akhirnya diketahui tugasnya telah digantikan tanpa konfirmasi. Situasi seperti ini mengajarkan kita untuk tetap tenang, mencari solusi, dan tidak larut dalam emosi.
Di kesempatan lain, ada pula momen yang mengetuk sisi empati. Seorang guru senior yang sebentar lagi memasuki masa purna bakti tampak kesulitan mengikuti Zoom. Ia terlambat bergabung, bukan karena abai, tetapi karena belum terbiasa dengan teknologi. Dalam situasi seperti ini, kita belajar bahwa profesionalisme tidak selalu berarti serba cepat, tetapi juga tentang saling memahami dan memberi ruang.
Menariknya, di tengah berbagai tantangan, selalu ada sosok-sosok yang menjadi energi positif. Para pengawas yang proaktif, santun, dan penuh tanggung jawab. Mereka hadir tepat waktu, aktif berkomunikasi, menyampaikan kendala dengan jelas, bahkan hal-hal kecil seperti daftar hadir pun dikerjakan dengan rapi tanpa kesalahan. Kehadiran mereka bukan hanya membantu pekerjaan, tetapi juga menguatkan semangat.
Pengalaman yang paling membekas justru datang dari sekolah-sekolah yang serba terbatas. Saya pernah mendampingi sebuah sekolah swasta dengan jumlah peserta didik hanya sembilan orang. Perangkat yang digunakan pun sederhana, bahkan sering kali mengalami kendala teknis. Namun, di balik keterbatasan itu, ada semangat yang luar biasa. Guru dan siswa tetap bertahan, tetap berusaha, tetap percaya bahwa proses ini penting.
Dari sana saya belajar, bahwa kualitas pendidikan tidak selalu ditentukan oleh kelengkapan fasilitas, tetapi oleh ketulusan dan semangat orang-orang di dalamnya.
Bagi para guru dan penyelia, pengalaman ini seolah menjadi cermin. Bahwa dalam setiap tugas, kita tidak hanya dituntut untuk bekerja, tetapi juga untuk tumbuh. Tumbuh dalam kesabaran, dalam komunikasi, dan dalam kemampuan memahami orang lain.
Menjadi penyelia TKA bukan sekadar memastikan prosedur berjalan sesuai aturan. Lebih dari itu, ini adalah tentang menjaga kepercayaan, merawat kolaborasi, dan menghadirkan ketenangan di tengah berbagai kemungkinan yang tak terduga.
Hari terakhir ini bukanlah akhir dari peran, melainkan awal dari pemahaman baru. Bahwa setiap interaksi yang kita bangun, sekecil apa pun, memiliki arti. Bahwa setiap tantangan yang kita hadapi, sesulit apa pun, selalu membawa pelajaran.
Untuk para guru, pengawas dan penyelia di mana pun berada, teruslah melangkah dengan hati yang hangat. Sebab pendidikan tidak hanya dibangun oleh sistem yang kuat, tetapi oleh manusia-manusia yang saling menguatkan.
Jejak Hangat Penyelia TKA. Dan pada akhirnya, yang akan selalu dikenang bukan hanya apa yang kita kerjakan, tetapi bagaimana kita menjalaninya dengan penuh tanggung jawab, dengan keikhlasan, dan dengan semangat untuk terus memberi yang terbaik.