Oleh: Washadi
Penulis, Sastrawan, Dosen Universitas Pamulang, Guru SMPN 8 Kota Tangerang Selatan
Pendidikan bukan sekadar proses pemindahan ilmu pengetahuan dari seorang pengajar kepada peserta didik. Pendidikan sejatinya adalah proses pembentukan manusia. Di dalamnya terdapat usaha untuk membangun akal, membina moral, dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan agar seseorang tumbuh menjadi pribadi yang utuh. Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual murid, tetapi juga dari karakter yang terbentuk dalam dirinya. Dalam proses inilah guru memegang peranan yang sangat penting.
Peran Guru dalam Membentuk Karakter Murid. Guru bukan hanya penyampai materi pelajaran, melainkan pembimbing kehidupan. Seorang guru dapat memengaruhi cara berpikir, sikap, bahkan masa depan muridnya. Banyak orang dewasa yang masih mengingat ucapan gurunya puluhan tahun kemudian. Hal itu menunjukkan bahwa kehadiran guru bukan sekadar profesi administratif, tetapi juga kekuatan moral yang membentuk kepribadian manusia. Baca: https://news.detik.com/opini/d-2111988/peranan-guru-dalam-menciptakan-generasi-terbaik-bangsa
Dalam perspektif Islam, guru memiliki kedudukan yang sangat mulia. Islam memandang ilmu sebagai cahaya yang membimbing manusia menuju kebaikan. Oleh karena itu, orang yang mengajarkan ilmu memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah Swt. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”(QS. Al-Mujadilah [58]: 11)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa ilmu dan pendidikan memiliki kedudukan yang luhur. Guru sebagai penyampai ilmu menjadi bagian penting dalam proses memuliakan manusia. Tidak hanya mengajarkan pengetahuan, guru juga memiliki tanggung jawab moral untuk menanamkan akhlak kepada murid.
Rasulullah saw. sendiri menempatkan pendidikan sebagai inti dakwah Islam. Dalam sebuah hadis disebutkan:“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”(HR. Ahmad)
Hadis tersebut menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah pembentukan akhlak. Dengan demikian, guru tidak cukup hanya menjadi pengajar, tetapi juga harus menjadi teladan dalam perilaku sehari-hari. Murid belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan guru, melainkan juga dari apa yang dilakukan gurunya.
Tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, menegaskan bahwa pendidikan harus memerdekakan manusia lahir dan batin. Ia memperkenalkan semboyan terkenal: “Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.” Di depan, guru memberi teladan; di tengah, guru membangun semangat; dan di belakang, guru memberikan dorongan. Pemikiran ini menunjukkan bahwa guru merupakan figur sentral dalam pembentukan karakter murid karena keteladanan lebih kuat daripada sekadar nasihat. Baca: https://www.literasitinta.com/dasar-dasar-pendidikan-yang-menuntun/
Keteladanan guru memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan moral peserta didik. Anak-anak dan remaja cenderung meniru perilaku orang yang mereka hormati. Jika guru bersikap jujur, disiplin, santun, dan penuh tanggung jawab, maka nilai-nilai itu perlahan akan tertanam dalam diri murid. Sebaliknya, jika guru menunjukkan sikap kasar, tidak adil, atau tidak peduli terhadap murid, maka pendidikan karakter akan kehilangan maknanya.
Psikolog sosial asal Kanada, Albert Bandura, melalui teori social learning menjelaskan bahwa manusia belajar melalui proses observasi dan peniruan. Anak tidak hanya belajar dari instruksi verbal, tetapi juga dari perilaku yang mereka lihat setiap hari (Bandura, 1977). Dalam konteks pendidikan, teori ini memperlihatkan bahwa guru adalah model sosial yang sangat penting bagi murid.
Peran guru dalam membentuk karakter juga terlihat dalam cara guru memperlakukan murid. Guru yang menghargai murid akan membantu tumbuhnya rasa percaya diri dan harga diri pada anak. Sebaliknya, guru yang gemar merendahkan atau mempermalukan murid dapat meninggalkan luka psikologis yang bertahan lama. Pendidikan karakter membutuhkan pendekatan yang manusiawi karena tujuan pendidikan bukan mencetak manusia yang takut, melainkan manusia yang sadar akan nilai-nilai kebaikan.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Driyarkara yang menyatakan bahwa pendidikan adalah proses “memanusiakan manusia.” Menurutnya, pendidikan harus membantu manusia bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa, bermoral, dan bertanggung jawab. Guru bukan sekadar alat sistem pendidikan, tetapi pendamping yang membantu murid menemukan kemanusiaannya.
Di era modern, tantangan guru semakin besar. Kemajuan teknologi membuat murid dapat memperoleh informasi dengan mudah tanpa harus menunggu penjelasan guru. Namun, teknologi tidak dapat menggantikan peran emosional dan moral seorang guru. Internet dapat memberikan pengetahuan, tetapi tidak dapat menggantikan keteladanan, kasih sayang, dan sentuhan kemanusiaan yang diberikan seorang pendidik.
Fenomena krisis moral di kalangan generasi muda seperti meningkatnya perilaku intoleran, perundungan, kekerasan verbal, dan rendahnya empati menunjukkan bahwa pendidikan karakter semakin penting. Dalam situasi seperti ini, guru tidak boleh hanya fokus pada pencapaian akademik. Pendidikan harus kembali menempatkan pembentukan karakter sebagai tujuan utama.
Menurut Thomas Lickona, pendidikan karakter adalah usaha sadar untuk membantu seseorang memahami, mencintai, dan melakukan nilai-nilai etika inti (Lickona, 1991). Pendidikan karakter tidak cukup hanya mengajarkan mana yang benar dan salah, tetapi juga membentuk kebiasaan melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam proses itu, guru memiliki posisi strategis karena ia berinteraksi langsung dengan murid setiap hari.
Tokoh pendidikan Indonesia, Muhammad Nuh, juga pernah menegaskan bahwa pendidikan karakter harus menjadi ruh pendidikan nasional. Menurutnya, kecerdasan tanpa karakter hanya akan melahirkan manusia yang pintar tetapi kehilangan arah moral. Karena itu, sekolah dan guru harus menjadi tempat tumbuhnya nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian sosial.
Selain menjadi teladan, guru juga berperan sebagai motivator. Banyak murid yang sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi tidak percaya pada dirinya sendiri. Di sinilah kata-kata seorang guru dapat menjadi kekuatan yang mengubah hidup seseorang. Satu kalimat sederhana seperti “kamu pasti bisa” terkadang mampu membangkitkan harapan dalam diri murid yang hampir menyerah.
Hubungan emosional antara guru dan murid juga memengaruhi keberhasilan pendidikan karakter. Murid yang merasa dihargai akan lebih terbuka menerima nasihat dan bimbingan. Karena itu, pendidikan memerlukan kasih sayang. Rasulullah saw. sendiri mendidik para sahabat dengan kelembutan, bukan dengan kekerasan. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu.”(QS. Ali ‘Imran [3]: 159)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa kelembutan adalah bagian penting dalam pendidikan. Guru yang mengajar dengan kasih sayang akan lebih mudah menyentuh hati murid dibandingkan guru yang mendidik dengan kemarahan dan ketakutan.
Peran Guru dalam Membentuk Karakter Murid. Pada akhirnya, peran guru dalam membentuk karakter murid tidak dapat digantikan oleh teknologi ataupun sistem pendidikan yang canggih. Guru adalah penjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ia bukan hanya pengajar ilmu, tetapi juga penanam harapan, pembentuk moral, dan teladan kehidupan. Dari tangan guru lahir generasi yang tidak hanya cerdas berpikir, tetapi juga bijaksana dalam bersikap.
Karena itu, menghormati guru sesungguhnya berarti menghormati masa depan peradaban. Sebab di balik seorang murid yang berkarakter baik, hampir selalu ada guru yang mengajarkan nilai kehidupan dengan ketulusan.
Daftar Pustaka
Bandura, Albert. (1977). Social learning theory. Prentice Hall.
Dewantara, Ki Hajar. (2013). Pemikiran, konsepsi, keteladanan, sikap merdeka. UST Press.
Driyarkara. (2006). Karya lengkap Driyarkara: Esai-esai filsafat pemikir yang terlibat penuh dalam perjuangan bangsanya. Gramedia Pustaka Utama.
Lickona, Thomas. (1991). Educating for character: How our schools can teach respect and responsibility. Bantam Books.
Nuh, Muhammad. (2013). Menyiapkan generasi emas Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Tafsir, Ahmad. (2010). Ilmu pendidikan dalam perspektif Islam. Remaja Rosdakarya.
https://shorturl.fm/nLdjB
https://shorturl.fm/rULJz
https://shorturl.fm/Cgeb3
https://shorturl.fm/YNvxL
https://shorturl.fm/BpUKk
https://shorturl.fm/Yllzf
https://shorturl.fm/ddVZO