Menguatkan Guru Lewat HOTS. Jumat 24 April 2026, suasana ruang guru SMP Negeri 20 Tangerang Selatan terasa berbeda dari biasanya. Tepat pukul 10.00 WIB, para guru berkumpul bukan sekadar untuk berbagi cerita keseharian, melainkan untuk menajamkan satu keterampilan penting dalam dunia pendidikan: menyusun kisi-kisi dan soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS). Di tengah tantangan pendidikan yang terus berkembang, kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama yang hangat sekaligus menggugah semangat. Baca: https://www.literasitinta.com/pengembangan-naskah-soal-literasi-numerasi/
Pelatihan ini bertujuan memperdalam wawasan para guru dalam merancang soal yang tidak hanya menguji ingatan, tetapi juga melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik. Orientasinya jelas, yakni mendukung pelaksanaan ASAT 2026 agar lebih berkualitas dan bermakna. Di sinilah peran guru tidak lagi sekadar sebagai penguji, tetapi sebagai perancang pengalaman berpikir bagi siswa.
Kegiatan dibuka dengan penuh keakraban oleh Ibu Juwita sebagai pembawa acara. Suasana semakin hidup ketika pemateri, Bapak Arif Khamdi, M.Pd., memulai sesi dengan sebuah refleksi sederhana namun menggugah: apa sebenarnya perbedaan soal HOTS dan bukan HOTS? Pertanyaan ini seolah menjadi pintu masuk bagi para guru untuk menelusuri kembali pemahaman mereka. Satu per satu peserta mencoba menjawab, menghadirkan beragam perspektif yang menunjukkan bahwa proses belajar memang selalu dimulai dari keberanian untuk berpikir dan berbagi. Baca: https://www.kompasiana.com/dr32144/691175aded6415417d581092/hots-tanpa-budaya-belajar-tanpa-jiwa
Dalam pemaparannya, materi disampaikan dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna. Para guru diajak memahami klasifikasi level kognitif yang menjadi dasar penyusunan soal. Level C1 dan C2 berada pada ranah L1, yang dikenal sebagai kategori LOTS (Lower Order Thinking Skills), berfokus pada kemampuan mengingat dan memahami. Sementara itu, level C3 masuk dalam ranah L2 atau MOTS (Middle Order Thinking Skills), yang menekankan pada kemampuan menerapkan. Adapun level C4 hingga C6 berada pada ranah L3, yang menjadi inti dari HOTS, yaitu kemampuan menganalisis, mengevaluasi, hingga mencipta.
Menguatkan Guru Lewat HOTS. Pemahaman ini menjadi penting karena sering kali kesalahan terjadi bukan pada bentuk soal, melainkan pada indikator yang menyertainya. Pemateri menekankan bahwa tidak semua soal yang memiliki stimulus dapat langsung dikategorikan sebagai soal HOTS. Banyak soal yang sekilas tampak kompleks karena memuat teks panjang atau kasus, tetapi sebenarnya masih berada pada level LOTS atau MOTS. Kunci utamanya terletak pada bagaimana soal tersebut mendorong siswa untuk berpikir kritis, mengambil keputusan, dan memecahkan masalah.
Lebih jauh, disampaikan pula bahwa karakteristik soal HOTS tidak bisa dilepaskan dari konteks kehidupan nyata. Stimulus yang digunakan sebaiknya relevan dengan pengalaman siswa, isu-isu terkini, atau permasalahan yang dekat dengan kehidupan mereka. Dengan demikian, soal tidak hanya menjadi alat evaluasi, tetapi juga jembatan yang menghubungkan pembelajaran di kelas dengan dunia nyata.
Suasana pelatihan semakin dinamis saat sesi tanya jawab dimulai. Sebanyak 19 guru yang hadir menunjukkan antusiasme yang tinggi. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga reflektif, seperti bagaimana mengubah soal yang sudah ada menjadi berbasis HOTS, atau bagaimana menyesuaikan tingkat kesulitan soal dengan kemampuan siswa. Diskusi berlangsung hangat, saling melengkapi, dan membuka ruang bagi setiap peserta untuk berkembang bersama.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan baru, tetapi juga menyadarkan bahwa menjadi guru adalah proses belajar yang tidak pernah berhenti. Di tengah keterbatasan dan tantangan, selalu ada ruang untuk berbenah dan meningkatkan kualitas diri. Menyusun soal HOTS bukan sekadar tuntutan kurikulum, melainkan bentuk komitmen untuk menyiapkan generasi yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan adaptif.
Pada akhirnya, pelatihan ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar dalam pendidikan sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil di ruang sederhana. Dari ruang guru yang hangat, lahir semangat baru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna. Dan dari tangan-tangan para guru yang terus belajar, masa depan pendidikan perlahan dibentuk dengan lebih baik.