Menyalakan Literasi Menguatkan Kolaborasi. Rabu, 16 September 2026 menjadi salah satu momen yang berkesan bagi MGMP Bahasa Indonesia Kota Tangerang Selatan. Hari itu bukan sekadar pertemuan antarguru, melainkan menjadi ruang untuk belajar, berbagi pengalaman, menguatkan literasi, dan menumbuhkan semangat bersama dalam menghadirkan pembelajaran Bahasa Indonesia yang semakin bermakna bagi peserta didik.
Bertempat di Aula UPTD SMP Negeri 8 Tangerang Selatan, MGMP Bahasa Indonesia Kota Tangerang Selatan menyelenggarakan agenda pendampingan Penguatan Literasi dan Bedah Buku Ajar Bahasa Indonesia Terbaru Kelas IX. Kegiatan ini dihadiri oleh pejabat dari Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan serta sejumlah guru Bahasa Indonesia dari berbagai sekolah di Kota Tangerang Selatan.
Sejak awal kegiatan, suasana terasa hangat dan penuh semangat. Para guru hadir bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai pembelajar yang memiliki keinginan yang sama: terus berkembang dan memberikan pengalaman belajar terbaik bagi peserta didik. Kehadiran buku ajar terbaru menjadi momentum penting untuk bersama-sama memahami arah pembelajaran, mencermati materi, serta mendiskusikan bagaimana isi buku dapat diterapkan secara kontekstual di dalam kelas.
Kegiatan bedah buku menjadi semakin menarik ketika peserta diajak memasuki sesi diskusi kelompok. Setiap kelompok mendapatkan lembar kerja yang harus didiskusikan dan diisi secara bersama-sama. Di sinilah terlihat bahwa pembelajaran yang sesungguhnya tidak selalu berlangsung melalui ceramah. Pembelajaran dapat tumbuh melalui percakapan, pertukaran gagasan, perbedaan sudut pandang, dan keberanian untuk menyampaikan pendapat.
Para guru berdiskusi dengan penuh antusias. Ada yang membaca dan mencermati materi, ada yang menyampaikan pendapat, ada yang memberikan tanggapan, dan ada pula yang mencoba menghubungkan materi dengan pengalaman pembelajaran di kelas. Proses tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi bukan sekadar bekerja dalam satu kelompok, tetapi juga tentang kesediaan untuk mendengar, menghargai gagasan, dan membangun pemahaman secara bersama-sama.https://gurudikdas.kemendikdasmen.go.id/news/Pelaksanaan-Pembelajaran-Berbasis-Literasi
Beberapa kelompok kemudian mendapat kesempatan untuk memaparkan hasil diskusinya di hadapan forum. Momen presentasi menjadi ruang yang menarik karena setiap kelompok membawa sudut pandang dan hasil pemikiran masing-masing. Dari sini terlihat bahwa satu materi dapat dipahami melalui berbagai perspektif. Perbedaan pemikiran justru menjadi kekayaan yang dapat memperluas wawasan.
Namun, salah satu momen yang paling berkesan terjadi ketika pemateri mengajukan dua pertanyaan yang berkaitan dengan tema linguistik. Pertanyaan tersebut seolah menjadi pemantik yang menyalakan rasa ingin tahu para peserta. Banyak guru mencoba memberikan jawaban. Sebagian menyampaikan pendapat berdasarkan pemahaman yang dimiliki, sementara yang lain mencoba menganalisis persoalan dari sudut pandang yang berbeda.
Suasana forum pun menjadi semakin hidup.
Tidak sedikit peserta yang tampak berpikir lebih dalam sebelum menyampaikan jawabannya. Ada rasa penasaran, keberanian untuk mencoba, sekaligus keinginan untuk menemukan jawaban yang tepat. Momen tersebut menjadi gambaran nyata bahwa literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca teks. Literasi juga berarti kemampuan memahami, mempertanyakan, menganalisis, menghubungkan informasi, dan membangun pemikiran secara kritis. https://www.literasitinta.com/memaknai-literasi/
Bagi seorang guru, pengalaman seperti ini tentu memiliki makna yang lebih luas. Guru tidak hanya dituntut untuk mengajarkan literasi kepada peserta didik, tetapi juga perlu terus menjaga dan mengembangkan budaya literasi dalam dirinya sendiri. Guru yang terus belajar akan lebih mudah mengajak peserta didiknya mencintai proses belajar.
Kegiatan ini sekaligus mengingatkan bahwa perubahan dalam pendidikan tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang-kadang, perubahan bermula dari sebuah diskusi sederhana, sebuah pertanyaan yang menggugah, atau keberanian untuk mengatakan, “Mari kita cari tahu bersama.”
MGMP menjadi ruang penting untuk menjaga semangat tersebut. Melalui forum ini, para guru dapat saling menguatkan, berbagi praktik baik, mendiskusikan tantangan pembelajaran, serta bersama-sama mencari solusi yang relevan dengan kebutuhan peserta didik.
Menyalakan Literasi Menguatkan Kolaborasi. Semoga kegiatan pendampingan penguatan literasi dan bedah buku ajar ini tidak berhenti sebagai agenda satu hari. Semoga semangat yang tumbuh di Aula UPTD SMP Negeri 8 Tangerang Selatan dapat dibawa kembali ke sekolah masing-masing, masuk ke ruang-ruang kelas, dan akhirnya dirasakan oleh para peserta didik.
Sebab pada akhirnya, buku yang baik membutuhkan guru yang terus belajar, dan pembelajaran yang bermakna membutuhkan guru yang tidak pernah berhenti menyalakan rasa ingin tahu.
Dari Tangerang Selatan, semangat itu terus dinyalakan: membaca untuk memahami, berdiskusi untuk memperkaya, berpikir kritis untuk menemukan, dan berkolaborasi untuk bertumbuh bersama.