Anak Manja, Orangtua Menanggung. Kasus dugaan penganiayaan berat yang dilakukan Taufik Hidayat sempat menjadi perhatian publik. Ia bahkan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO), hingga Gubernur Jawa Barat mengumumkan sayembara dengan hadiah Rp250 juta bagi siapa saja yang memberikan informasi yang mengarah pada penangkapannya.
Kasus yang mencuat bukan sekadar tentang pelarian seorang tersangka. Yang lebih menyayat hati adalah penderitaan yang dialami korban. Dugaan kekerasan yang dilakukan disebut berlangsung berulang, mulai dari pemukulan menggunakan benda keras, penyundutan dengan rokok, luka serius pada mata yang menyebabkan gangguan penglihatan, hingga luka pada lutut akibat benda tajam yang membuat korban kesulitan berjalan. Korban bahkan diduga sempat disekap di dalam kamar dalam keadaan tidak berdaya.
Di balik peristiwa ini, muncul pula pengakuan dari ayah Taufik yang menyentuh sekaligus mengundang renungan. Ia mengakui bahwa anaknya sejak kecil memiliki sifat keras dan temperamental. Bahkan, suatu ketika sang ayah pernah dipukul menggunakan balok kayu hanya karena di rumah tidak tersedia lauk makan. Sang ayah juga mengungkapkan bahwa Taufik sering dimanjakan karena dianggap paling tampan dibanding saudara-saudaranya, sehingga kesalahannya kerap dibela. Baca: https://jabar.nu.or.id/hikmah/mendidik-anak-tanpa-sikap-memanjakan-q8KKJ
Entah seberapa besar pengaruh pola asuh terhadap kasus ini, tentu hanya proses hukum dan kajian yang dapat menjawabnya secara utuh. Namun satu hal yang patut menjadi pelajaran bagi kita semua adalah bahwa keluarga merupakan sekolah pertama bagi seorang anak. Di sanalah ia belajar tentang benar dan salah, belajar mengendalikan emosi, menghormati orang lain, menerima konsekuensi, meminta maaf ketika bersalah, dan bertanggung jawab atas setiap tindakannya. Baca: https://www.literasitinta.com/824-2/
Sayangnya, tidak sedikit orang tua yang keliru memaknai cinta. Mereka mengira mencintai berarti selalu menuruti keinginan anak.Menganggap kasih sayang berarti tidak tega melihat anak menangis. Merasa membela anak adalah bentuk perlindungan terbaik.Padahal anak yang tidak pernah mendengar kata “tidak”, akan sulit menerima penolakan. Anak yang tidak pernah menerima konsekuensi, akan tumbuh merasa dirinya selalu benar. Anak yang selalu dibela ketika bersalah, akan kesulitan mengakui kesalahan. Anak yang tidak pernah diminta meminta maaf, akan sulit berempati kepada orang lain. Dan anak yang tidak pernah belajar mengendalikan emosi, berisiko melampiaskan kemarahannya dengan cara melukai orang lain.
Sebaliknya, orang tua yang bijak memahami bahwa tugas mereka bukan sekadar membuat anak bahagia hari ini, tetapi mempersiapkan anak agar mampu hidup dengan baik di masa depan. Mendidik memang jauh lebih berat daripada memanjakan.Memanjakan hanya membutuhkan uang.Mendidik membutuhkan waktu.Memanjakan cukup dengan berkata, “Ya sudah, tidak apa-apa.”
Sedangkan mendidik kadang mengharuskan kita berkata, “Nak, kamu salah. Kamu harus meminta maaf.”Memanjakan membuat anak senang sesaat. Mendidik membentuk karakter seumur hidup. Sering kali orang tua merasa kasihan ketika anak menangis karena dihukum. Padahal yang jauh lebih menyedihkan adalah ketika suatu hari anak menangis di ruang tahanan karena sejak kecil tidak pernah diajarkan membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Sebaiknya tidak buru-buru membela anak hanya karena ia adalah buah hati kita. Dengarkan kedua belah pihak. Ajarkan ia jujur meskipun kejujuran itu membuatnya harus menerima hukuman.Ajarkan ia meminta maaf meskipun harga dirinya terasa turun. Ajarkan ia bertanggung jawab meskipun konsekuensinya berat. Karena dunia tidak akan memperlakukan anak kita sebagaimana kita memperlakukannya di rumah. Sekolah mungkin masih memberi kesempatan. Tetangga mungkin masih memaklumi.Tetapi hukum tidak mengenal istilah “anak kesayangan.” Masyarakat tidak melihat siapa orang tuanya.Mereka hanya melihat perbuatannya.
Maka, wahai para orang tua, jangan hanya sibuk menyiapkan pendidikan terbaik, tetapi lupa menanamkan adab. Jangan hanya mengejar nilai rapor, tetapi mengabaikan nilai kejujuran. Jangan hanya bangga ketika anak menjadi juara kelas, tetapi lalai mengajarkan cara menghormati orang lain.Jangan hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi lupa memenuhi kebutuhan moral dan spiritualnya. Rumah bukan sekadar tempat anak makan dan tidur.Rumah adalah tempat lahirnya karakter. Rumah adalah tempat pertama anak belajar tentang kasih sayang, disiplin, empati, kesabaran, tanggung jawab, dan rasa hormat. Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hanya merasakan hasil dari pendidikan sekolah. Masyarakat akan merasakan hasil dari pendidikan keluarga.
Anak Manja, Orangtua Menanggung. Semoga setiap ayah dan ibu tidak hanya menjadi orang tua yang mencintai anaknya, tetapi juga berani mendidiknya. Sebab cinta yang sejati bukanlah selalu menuruti semua keinginan anak. Cinta yang sejati adalah berani membentuknya menjadi manusia yang berakhlak, bertanggung jawab, mampu mengendalikan diri, menghormati sesama, dan membawa manfaat bagi orang lain. Anak mungkin akan melupakan mainan yang kita belikan. Anak mungkin akan melupakan pakaian mahal yang kita berikan. Tetapi nilai-nilai yang kita tanamkan sejak kecil akan ia bawa sepanjang hidupnya dan itulah warisan terbaik yang dapat diberikan oleh setiap orang tua.