Perayaan Sumpah Pemuda Duptas. Tanggal 28 Oktober 2025 menjadi momen bersejarah bagi keluarga besar SMP Negeri 20 Kota Tangerang Selatan. Di hari itu, sekolah menggelar perayaan Hari Sumpah Pemuda sekaligus puncak Bulan Bahasa. Meski acara tidak berlangsung di lingkungan sekolah sendiri, suasana kegiatan terasa sangat khidmat dan tertata rapi. Cuaca pun seolah ikut bersahabat langit teduh tanpa terik, udara sejuk, dan angin berembus lembut. Padahal, di hari-hari sebelumnya panas begitu menyengat dan hujan turun deras setelahnya. Seakan Allah memberi hadiah khusus bagi para pemuda-pemudi yang merayakan semangat persatuan dan cinta bahasa.
Acara dimulai tepat pukul 13.00 WIB dan berakhir dengan lancar pada pukul 16.00 WIB. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib, sistematis, dan penuh semangat. Para petugas apel menunjukkan tanggung jawab luar biasa. MC yang memandu acara, Rafa Nayra Aulianda dan Audry Febian Melati, merupakan pemenang lomba MC dalam rangka Bulan Bahasa membuktikan bahwa ajang literasi sekolah benar-benar menumbuhkan bakat nyata. Dirigen, Ibu Lilin, S.Pd., memimpin dengan penuh wibawa. Pembacaan Teks Sumpah Pemuda oleh Bapak Imam Mashuri, S.Pd., dan doa yang dipanjatkan Bapak Syaiful Maki, S.Pd., menambah nuansa khidmat dan khusu. Laporan ketua panitia oleh Ibu Dra. Juwita Nurhayati serta pengumuman pemenang lomba oleh Ibu Ifat menjadi bukti bahwa kegiatan ini tersusun dengan matang dan penuh dedikasi. Baca: https://www.kemenpora.go.id/detail/6536/angkat-tema-pemuda-pemudi-bergerak-indonesia-bersatu-puncak-peringatan-hari-sumpah-pemuda-ke-97-tahun-2025-bakal-dimeriahkan-vierratale-dan-idgitaf
Puncak acara ditandai dengan sambutan hangat Kepala Sekolah, Ibu Frida Tesalonik, yang berpesan agar siswa meneladani semangat juang pemuda 1928. “Perjuangan kalian hari ini bukan lagi dengan bambu runcing, melainkan dengan belajar sungguh-sungguh, berprestasi, dan berbuat baik bagi lingkungan sekitar,” tuturnya penuh makna. Pesan ini terasa begitu relevan di tengah arus globalisasi dan tantangan generasi muda masa kini.

Tema kegiatan tahun ini, “Bahasa Menyatukan, Semangat Pemuda Menguatkan,” bukan sekadar slogan seremonial, tetapi cerminan nilai yang harus dijaga. Dalam konteks pendidikan, bahasa Indonesia bukan hanya alat komunikasi, melainkan simbol identitas dan perekat kebangsaan. Melalui bahasa, kita mengenal diri sebagai bagian dari Indonesia yang kaya budaya dan beragam suku. Ketika kita berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sejatinya kita sedang menjaga warisan luhur yang mempersatukan negeri ini sejak dahulu.
Namun, tantangan berbahasa kini semakin nyata. Di tengah derasnya arus media sosial dan pengaruh global, penggunaan bahasa Indonesia sering tercampur aduk dengan bahasa asing atau istilah gaul yang kehilangan makna kesantunan. Di sinilah pentingnya kegiatan Bulan Bahasa seperti yang dilakukan SMP Negeri 20. Sekolah menjadi tempat menanamkan kembali kesadaran berbahasa yang santun, logis, dan berkarakter Indonesia.
Kegiatan lomba MC, pidato, menulis cerpen, membaca puisi, dan mendongeng bukan sekadar hiburan, melainkan ruang belajar untuk menumbuhkan literasi, kreativitas, dan keberanian berekspresi. Di balik lomba, tersimpan semangat perjuangan modern, melawan ketidaktahuan, rasa malas, dan kurangnya kepedulian terhadap budaya sendiri.
Momentum peringatan Sumpah Pemuda seharusnya menjadi pengingat bahwa persatuan Indonesia lahir dari keberagaman yang disatukan oleh niat baik. Pemuda 1928 tidak hanya bersumpah, mereka bermimpi besar untuk negeri ini. Dan mimpi itu kini diteruskan oleh generasi muda yang belajar di ruang-ruang kelas, menulis di media sosial, serta berbicara dengan semangat positif. Baca:https://www.literasitinta.com/seperti-apa-pemuda-ideal/
Kegiatan di SMP Negeri 20 bukan sekadar seremonial tahunan. Di baliknya, ada pelajaran besar, bahwa semangat berbahasa dan semangat kepemudaan harus terus hidup di hati generasi sekarang. Saat siswa berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya, saat mereka membaca teks Sumpah Pemuda, di situlah sebenarnya nilai-nilai kebangsaan ditanamkan.
Kita semua bisa belajar dari momen itu. Belajar bahwa bahasa bukan sekadar kata, melainkan jembatan hati antar manusia. Dengan bahasa yang santun, kita menebar rasa hormat; dengan bahasa yang bijak, kita menumbuhkan kepercayaan; dan dengan bahasa yang nasional, kita memupuk persatuan. Begitu pula semangat pemuda bukan hanya tentang usia muda, tetapi tentang keberanian untuk bermimpi, berkontribusi untuk membangun negeri.
Jadi, setiap kali kita memperingati Hari Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa, semoga bukan sekadar mengenang peristiwa, tetapi juga menyalakan kembali semangat di dalam diri. Semangat untuk menjaga bahasa Indonesia, menghargai keberagaman, dan menjadi generasi yang peduli, cerdas, serta berkarakter. Karena pada akhirnya, seperti kata Ibu Frida, “Perjuangan hari ini adalah perjuangan belajar, berkarya, dan berbuat kebaikan.”
Perayaan Sumpah Pemuda Duptas. Itulah makna sejati dari peringatan ini bahwa selama masih ada pemuda yang mau belajar dan mencintai bahasanya, Indonesia akan tetap kuat, bersatu, dan berdaulat.
Kegiatan Bulan Bahasa dan Peringatan Sumpah Pemuda menjadi kesatuan acara yang harmoni, yang tentunya akan menjadi pengingat sekaligus memori baik untuk para siswa. Melalui kegiatan ini, siswa juga dapat menggali potensi yang dimiliki. Belajar mengeksplor keberanian dan kemandirian untuk tampil didepan umum. Dan ternyata, mereka selalu menunggu kegiatan seperti pada Acara Peringatan Sumpah Pemuda ini. Semoga kegiatan seperti ini dapat terus terlaksana dan menjadi program rutin disetiap tahun pelajaran, agar siswa bisa mengembangkan bakat dan minatnya.
https://shorturl.fm/2TzC8
https://shorturl.fm/upYXO