Guru baik surga menanti. Tanggal 25 November selalu jadi hari yang istimewa yaitu peringatan hari guru. Tahun ini pemerintah mengusung tema” Guru Hebat Indonesia Kuat.” Hari Guru momen ketika bangsa ini menoleh sejenak dan mengingat betapa pentingnya sosok yang sering kita panggil “Bu” atau “Pak” setiap pagi di sekolah. Di Era Pendidikan 4.0 dan Merdeka Belajar, perbincangan tentang guru seperti tidak ada ujungnya. Bukan karena guru ingin diperhatikan, tapi karena perannya memang tidak pernah benar-benar selesai.
Sekarang, guru bukan lagi satu-satunya sumber ilmu. Murid bisa belajar dari YouTube, mesin pencari, aplikasi, bahkan kecerdasan buatan. Tapi justru karena itu, tugas guru jadi semakin kompleks. Guru dituntut menjadi fasilitator, motivator, pendamping, sekaligus inspirator. Guru tidak lagi berdiri sebagai “yang paling tahu,” tapi sebagai teman belajar yang mengarahkan. Dan percaya atau tidak, itu jauh lebih sulit daripada sekadar ceramah di depan kelas. Baca: https://www.literasitinta.com/apa-tugas-pokok-guru/
Di tengah pesatnya teknologi, guru juga dituntut untuk tidak mendominasi murid. Tidak boleh jadi sosok yang menakutkan atau menggurui tanpa empati. Murid sekarang butuh ruang untuk berpikir, bereksplorasi, dan berkreasi. Jadi, peran guru bergeser dari “pengendali kelas” menjadi “pemberdaya” yang membantu murid menemukan potensinya.
Tapi mari kita jujur; obrolan soal guru di Indonesia sering kali penuh ekspektasi. Banyak yang bilang keberhasilan pendidikan ada di tangan guru. Kalau murid unggul, katanya karena guru hebat. Tapi kalau murid gagal, guru juga yang disalahkan. Padahal guru hanyalah satu bagian dari ekosistem pendidikan. Ada negara dengan kebijakan yang berubah-ubah, ada kurikulum yang terus diperbarui, ada orang tua yang seharusnya terlibat, dan lingkungan sosial yang ikut membentuk karakter murid. Pendidikan itu kerja bareng, bukan beban satu profesi saja.
Belakangan, jagat media sosial juga sempat gaduh dengan beberapa pernyataan dan kasus:
- “Guru adalah beban negara.”
- “Kalau mau cari uang jangan jadi guru, jadilah pedagang.”
- Dua guru Luwu Utara yang dipecat karena tudingan pungli lalu dipulihkan oleh Presiden Prabowo.
Kalimat-kalimat itu seperti tamparan yang menyakitkan. Seolah-olah profesi guru begitu rendah dan mudah dicaci. Padahal, kalau dipikir-pikir, orang-orang yang melontarkan komentar itu bisa bicara lantang pun karena pernah diajari guru membaca, berhitung, dan memahami dunia. Di balik pejabat, ilmuwan, dokter, pengusaha, anggota dewan dan tokoh besar ada sosok guru yang dulu sabar membimbing, menemani mereka di kelas.
Ekspektasi masyarakat terhadap guru semakin tinggi. Guru dituntut mampu menerjemahkan kurikulum menjadi pembelajaran yang menyenangkan dan berkualitas. Guru harus membuat murid betah di kelas, kreatif, disiplin, dan sukses. Kurikulum sehebat apa pun dan menteri secerdas apa pun akan percuma kalau pembelajaran di kelas tidak memanusiakan murid. Maka wajar, guru sering dianggap sebagai kunci kualitas pendidikan. Baca: https://www.detik.com/sumbagsel/berita/d-8224931/tema-dan-logo-hari-guru-nasional-2025-lengkap-link-unduhnya
Namun ironisnya, ketika ada guru yang menampar murid karena merokok di sekolah, berita itu cepat sekali viral. Guru menegur murid bermain HP juga viral. Guru karaoke di ruang kerja, viral lagi. Seolah-olah guru selalu salah. Ketika guru berprestasi? Sepi. Ketika guru mengubah hidup murid? Jarang terdengar. Guru lagi, guru terus, guru melulu.
Untuk para guru di mana pun yang sabar ya…
Tetaplah menjadi guru meski kadang ada sindiran, komentar negatif, atau cibiran yang bikin hati panas. Kita tahu, tidak semua guru mahir teknologi. Ada yang masih gagap komputer, ada yang masih belajar membuat perangkat ajar digital, ada yang masih berusaha mengubah metode mengajar yang monoton. Ada yang masih terlambat datang ke sekolah. Ada yang sering absen dari upacara, ada yang sering tinggalkan kelas. Tapi itu tidak membuat kita berhenti. Yang penting mau belajar, belajar untuk berubah, pelan-pelan, sesuai kemampuan.
Karena sejatinya, guru bukan hanya profesi yang terikat seragam atau ruang kelas. Guru adalah teladan. Guru adalah siapa saja yang mengajarkan kebaikan dan bisa dipercaya. Setiap kebaikan yang kita tanamkan pada murid, sekecil apa pun, tidak akan pernah hilang. Ia tumbuh, berpindah, dan menyebar.
Prof. Nasaruddin Umar mengatakan, “Sebelum orang lain masuk surga, guru akan masuk surga lebih dulu.” Karena amal jariyah guru mengalir sepanjang hidup murid-muridnya. Ketika murid itu melakukan kebaikan, lalu mengajarkannya pada orang lain, pahala guru terus mengalir tanpa batas. Betapa luar biasanya profesi ini.
Guru baik surga menanti. Maka, wahai para guru, cintailah profesimu. Bukan karena pujian. Bukan karena penghargaan. Tapi karena engkau sedang membangun masa depan. Engkau mungkin tidak selalu disorot atau dipuji, tapi percayalah bangsa ini berdiri karena ada guru yang tetap bertahan. Maka, kalau benar kita meyakini bahwa kebaikan tidak pernah sia-sia. Kalau kita percaya bahwa ilmu adalah amal yang terus hidup meski raga sudah tiada. Dan kalau kita meyakini bahwa pahala terbaik adalah ketika hidup kita bermanfaat bagi hidup orang lain.
Maka satu pertanyaan sederhana muncul:
Siapa saja yang ingin masuk surga lebih dulu?
Yuk, jadi guru.
Jadi guru bukan berarti harus punya sertifikat atau ruang kelas. Jadi guru bukan hanya mereka yang berdiri di depan papan tulis.
Siapa pun yang mau mengajarkan kebaikan, membimbing, menuntun, membersamai murid dari datang hingga pulang dan menebarkan ilmu dialah guru. Apalagi jika ia menjadi idola bagi para muridnya.
Karena setiap ilmu baik yang kita bagikan, setiap karakter luhur yang kita tanamkan, setiap langkah benar yang kita arahkan itu semua akan kembali sebagai amal tanpa putus. Dan di situlah kemuliaan profesi ini berdiri.
Jadi kalau ada yang bertanya, “Siapa yang lebih dulu masuk surga?”
Jawabannya sederhana:
Mereka yang memilih menjadi guru
Mereka yang memilih menebarkan cahaya kebaikan
Mereka yang memilih menjadi bagian dari masa depan manusia.
Maka…
Kalau engkau ingin hidupmu berarti, ingin langkahmu bernilai, dan ingin jejakmu abadi jadilah guru. Dalam profesimu, dalam keluargamu, dalam komunitasmu, dalam setiap kesempatan yang kau punya.
Karena guru tidak selalu disorot. Tapi guru selalu dicatat oleh sejarah, oleh generasi, dan oleh Tuhan. Tetaplah jadi cahaya, meski dunia kadang lupa berterima kasih. Bangsa ini hidup, tumbuh, dan maju karena kalian.
Selamat Hari Guru 2025
https://shorturl.fm/CYar7