Ambigu diartikan bermakna ganda, taksa, bias.” Ambigu diartikan pula sebuah kata atau kalimat yang maknanya lebih dari satu, alias tidak pasti. Sehingga ambigu menjadikan banyak orang bingung. Punya nada ganda. Kiri boleh, kanan boleh. Apa yang diomong berbeda dengan apa yang dilakukan. Apa yang dituju berbeda dengan apa yang dijalankan. Jadi orang ambigu itu pikiran dan aksinya pun tidak pasti.
Katanya cinta Indonesia tapi kerjanya berceloteh tentang kekurangan dan kesalahan bangsanya. Katanya pengen membangun negeri, tapi bangun pagi aja susah. Katanya peduli sama Palestina tapi dimintai donasi pun alasannya ada-ada aja.
Ada pula orang yang berharap rezeki dari pekerjaannya. Tapi pekerjaan itu pula yang selalu dikeluhkan. Katanya mau kariernya naik tapi tidak meningkatkan etos kerjanya, tidak mengembangkan dirinya, tidak loyal dalam pengabdiannya. Katanya pengen jadi teladan buat orang-orang sekitarnya tapi nggak memberi contoh positif, kerja sering datang terlambat, semau sendiri dan apalah gitu. Katanya pengen dicintai Tuhan, disayang Allah, pengen doanya cepat dikabulkan tapi giliran ada panggilan azan ada aja alasannya. Inilah mereka orang-orang ambigu. Orang yang omongan dan aksinya berbeda.
Memang, manusia bila sudah ambigu itu susah ditebak. Bilangnya cinta tapi perilakunya dusta. Bilangnya paham agama tapi kerjanya mengoreksi menyalahkan kelemahan saudara seimannya. Bilangnya pengen punya anak yang salih, nurut, yang rajin salat dan ngaji, tapi sebagai orang tuanya nggak mau salat, kalau salat pun telat, dan boro-boro untuk ngaji.Bilangnya pengen jadi guru teladan, yang dicintai muridnya, eh tapi ngajarnya monoton, tidak perhatian pada keberagaman kemampuan murid, tidak mengembangkan diri. Manusia ambigu, kian tidak jelas arahnya. Mau kemana dan lewat mana jalannya? Bingung dibuat sendiri.
Seperti anak muda pacaran. Saat jadian, cerita ke orang-orang bahwa “ini bakal jadi jodoh gue yang dipertemukan untuk masa depan”. Ehh, sebulan kemudian, cerita lagi bilang sudah putus. Katanya “Gue sudah berusaha, tapi emang tidak jodoh mau diapain”. Anak muda zaman sekarang pun banyak yang ambigu.
Sebagaimana politisi, anggota dewan di musim sekarang ini. Mereka mendeklarasikan janjinya pada rakyat. Mereka memberikan angin segar, menu-menu janji surga. Ada yang berjanji sembako murah, jalanan halus, free wifi di tempat-tempat umum, dana taktis kegiatan hari-hari besar, dan janji manis lainnya. Dengan tujuan untuk menghipnotis warganya. Padahal semuanya hanya ambigu alias abu-abu,
Persis katanya cinta pada bangsa dan negara. Hidupnya di bumi Indonesia, cari nafkahnya pun di nusantara. Tapi saat bertutur yang diungkap ketidak-becusan negaranya sendiri. Mengeluh melulu soal negara. Tidak beres-lah, tidak becus-lah. Dia lupa, memang ada negara di dunia yang beres?
Manusia ambigu. Dia yang bilang “ada siang ada malam”. “Ada duka ada suka”. Ada sedih ada gembir. Ehh, pas giliran lagi kena duka dan sedih, bawaannya mengeluh melulu. Lalu bilang, Tuhan tidak berpihak pada dia. Tapi giliran lagi senang, euforia-nya luar biasa. sampai lupa saat lagi sedih. Tuhan pun tiada dipedulikan.
Manusia ambigu memang tidak literat. Standar ganda dan memuakkan. Manusia yang gagal mengejar mimpi-mimpinya sendiri. Lalu menyalahkan orang lain. Manusia yang tidak realistis namun hidup di masa kamuflastis.
Yuk hindari AMBIGU.