Gong Xi Fa Cai. (Semoga berbahagia dan memperoleh keberuntungan besar)
Xin Nian Khuai Le. (Selamat tahun baru)
Shen Ti Jian Kang (semoga badan sehat selalu),
Shi Shi Shun Li (semoga semua usaha lancar selalu).
Xie Xie (terima kasih)
Dua refleksi perayaan imlek ialah 1) Sembahyang. Sembahyang sebagai bentuk rasa syukur setelah melewati satu tahun. Mereka bersyukur masih diberi umur dan mendapati tahun baru imlek. Di dalam sembahyangnya berdoa mengingat kesalahan-kesalahan kemudian berjanji untuk memperbaiki diri di tahun baru dengan cara yang baik, positif dan baru. Dan 2) Berkumpul dengan keluarga. Tradisi berkumpul sebagai icon utama dari perayaan imlek. Saat berkumpul saling mengucapkan selamat tahun baru. Tradisi ini biasanya adanya kunjungan. Seorang anak kepada orangtuanya, kepada mertuanya, yang muda berkunjung ke yang lebih tua.
Selalu ada doa dan hikmah di balik peringatan hari besar. Ada kultur doa yang lebih kuat daripada event-nya itu sendiri. Bahwa peringatan itu seremoni. Tapi jauh lebih penting adalah implementasi nilai-nilai yang ada di dalamnya. Karena sejatinya dalam hidup manusia, “Bungkus tidak lebih penting daripada isinya”. Manusia tidak dilihat dari bungkusnya tapi isinya.
Seperti di hari Imlek. Ada tradisi angpao (amplop merah) sebagai bungkus. Tapi isinya uang. Sebagai simbol kepedulian kepada orang lain. Sebuah transfer kesejahteraan atau energi positif kepada orang lain. Dari orang yang mampu kepada orang yang tidak mampu. Dari orang tua pada anak-anak atau dari anak pada orang tua. Amplop merah hanya simbol sekaligus tradisi. Lambang kebaikan dan kesejahteraan dalam kultur Tionghoa. Merah berarti kegembiraan, semangat menuju kebaikan, keberuntungan.
Ini bukan soal ras, bukan pula soal agama, melainkan soal moral. Soal ajaran kebaikan yang bisa terjadi pada siapa saja, dan di mana saja. Bahwa sehebat apa pun berjuang keras untuk mencari uang maka ujungnya jangan lupa untuk dibagikan kepada yang membutuhkan. Saat kita mendapatkan rizki jangan lupa berterima kasih pada Tuhan. Terima kasih yang artinya, setelah kita mendapat, menerima rizki, lalu kasihlah sebagain rizki kita untuk orang di sekitar yang membutuhkan. Karena ada hak mereka yang dititipkan dalam rizki kita.
Tradisi amplop merah. Berarti jangan salah memperlakukan uang. Agar tidak terjerembab ke jurang kesombongan apalagi kelalaian untuk peduli. Sehingga uang dan harta mampu menjadi keberkahan bukan kesengsaraan. Karena uang bukan untuk “dituhankan” melainkan untuk sarana amal perbuatan yang bermanfaat. Zaman begini. Makin banyak orang keliru memperlakukan uang. Korupsi uang merajalela, jual beli jabatan , bagi-bagi uang dalam kampanye, serangan fajar agenda pileg, pilpres dan masih banyak lainnya. Ini semua bukti cara pandang yang keliru memperlakukan uang.
Di luar sana, tidak sedikit orang yang keliru dalam memperlakukan uang. Uang dianggap segalanya. Ada pula yang menjadikan uang sebagai ukuran status sosial dan gaya hidup. Uang, harta atau angpao dipertuhankan. Padahal uang bukan ukuran kemualian seseorang. Untuk apa punya uang banyak kalau tak ada kepedulian sosial, berat untuk berbagi sehingga sedikit teman, sedikit relasi dan banyak orang tidak menyukainya.
Jadi soal angpao atau uang, “bungkus itu tidak lebih penting daripada isinya”. Seperti sikap lebih penting daripada fakta. Sikap dalam memperlakukan uang ternyata lebih penting daripada uang itu sendiri. Seberapa pun uang yang dimiliki, semuanya hanya titipan. Tinggal mau dipakai untuk apa dan ke mana dibelanjakan? Karena uang titipan akan dimintai pertanggungjawaban oleh penitipnya.