Hidup itu Sederhana, Kita Saja yang Membuatnya Drama. Pernah nggak sih kamu tiba-tiba ngerasa capek, tapi bukan capek pekerjaan atau aktivitas? Capek yang rasanya datang dari dalam kepala. Seolah-olah hidup ini penuh banget, padahal kalau dipikir-pikir, ya biasa saja. Suatu sore, aku lagi nongkrong sama seorang teman di cafe kopi tempat sederhana dengan suara kipas yang berdecit dan gelas-gelas kaca berembun. Dia menatapku dan bilang, “Kamu kelihatan capek banget akhir-akhir ini.”
Aku cuma jawab singkat, “Capek mikir hidup.”
Dia tertawa kecil, bukan mengejek, tapi kayak ngerti. Lalu jawabannya sederhana, “Hidup itu sebenarnya sederhana. Kita aja yang sering bikin ruwet.”
Dan entah kenapa, kalimat yang sederhana itu malah nempel sampai sekarang. Iya, sering kali yang bikin hidup berat itu bukan hidupnya, tapi pikiran kita sendiri.
Sekarang ini, dunia seperti memaksa kita untuk selalu merasa kurang. Lihat media sosial sebentar, langsung muncul keinginan baru. Ada yang liburan ke tempat bagus, muncul rasa “Kapan ya?”. Ada yang baru beli barang baru, muncul dorongan untuk ikut-ikutan. Ada yang terlihat bahagia, kita langsung merasa seolah hidup kita kurang berhasil. Padahal belum tentu apa yang mereka tunjukkan itu benar-benar kebahagiaan. Baca: https://islam.nu.or.id/ilmu-hadits/kajian-hadits-gaya-hidup-minimalis-ala-rasulullah-Op2rT
Sokrates pernah bilang, bahagia itu bukan tentang punya banyak, tapi bisa menikmati yang sedikit. Dan kalimat itu ngena banget. Karena percuma punya banyak kalau tetap saja merasa kurang. Percuma usaha keras kalau ujung-ujungnya hanya untuk mengejar pandangan orang lain, bukan kebutuhan diri sendiri.
Minimalisme itu sebenarnya bukan tentang hidup cuma dengan dua pakaian atau meja kosong tanpa dekorasi. Bukan. Minimalisme adalah kemampuan buat mengurangi keinginan yang tidak perlu. Karena semakin banyak kita ingin, semakin banyak pula energi yang habis untuk mengejar. Lalu kita capek, tapi nggak tahu kenapa. Padahal mungkin jawabannya sesederhana: keinginan kita kebanyakan.
Aku punya satu kenalan yang hidupnya sangat sederhana. Rumahnya kecil, ponselnya bukan keluaran terbaru, pakaiannya biasa saja. Tapi wajahnya tenang. Serius, tenang banget. Bukan tenang karena tidak punya masalah, tetapi cara dia menghadapi hidup seolah lebih ringan dari kebanyakan orang. Waktu aku tanya rahasianya, dia berkata santai, “Aku berhenti banding-bandingin hidupku sama orang lain.”
Dan aku langsung mikir: selama ini capekku jangan-jangan karena aku sering membandingkan. Bukan karena aku kurang. Tapi karena aku merasa harus seperti orang lain.
Bandingin itu racun halus. Pelan tapi mematikan pelan-pelan. Baca: https://www.literasitinta.com/makna-sejati-dalam-bekerja/
Stoikisme bilang, waktu dan energi kita itu terbatas. Jadi jangan dihabiskan untuk hal-hal yang nggak penting. Termasuk mikirin komentar orang. Kita sering banget takut dinilai, takut tidak disukai, takut salah langkah. Padahal tidak semua orang suka sama kita, dan itu sepenuhnya wajar. Sama seperti kita pun tidak suka semua orang yang kita temui. Sesederhana itu.
Kadang kita memperumit hidup karena terlalu banyak asumsi.
Rindu, tapi diam.
Butuh bantuan, tapi gengsi.
Ingin jujur, tapi takut salah paham.
Ingin istirahat, tapi merasa bersalah.
Padahal banyak hal bisa selesai kalau kita berani sedikit lebih jujur pada diri sendiri dan orang lain. Hidup tidak perlu selalu penuh skenario.
Sampai akhirnya aku paham, kebahagiaan itu bukan selalu soal menambah sesuatu dalam hidup. Justru sering kali tentang mengurangi:
- Mengurangi ambisi yang tidak perlu
- Mengurangi perbandingan
- Mengurangi gengsi
- Mengurangi drama yang kita ciptakan di kepala
Kalau hati diberi ruang untuk bernapas, kita akan lebih mudah merasakan syukur. Dan ketika syukur hadir, hidup terasa lebih ringan.
Sore itu, sebelum berpisah, temanku menepuk pundakku dan berkata, “Kita ini sebenarnya sudah punya banyak. Cuma sering lupa menghargainya.”
Dan aku percaya itu.
Ternyata, cukup itu bukan keadaan barang, tapi keadaan hati.
Ketika hati tenang, semua terasa lebih lapang.
Ketika hati merasa cukup, hidup terasa lebih utuh.
Hidup itu Sederhana, Kita Saja yang Membuatnya Drama. Mungkin tugas kita bukan mencari hidup yang sempurna, tapi belajar menyederhanakan yang sebenarnya sudah cukup.
Secangkir kopi saja membuatnya bikin kita nikmat, lebih rileks, membuat pikiran lebih damai asalkan bagiaman cara kita mensyukuri . Hehehehe.
https://shorturl.fm/2ANVH