Belajar memaafkan saat Idul Fitri. “Al-insan mahalul khoto” Manusia tempat (yang tidak lepas) dari kesalahan.” Ungkapan ini memuat makna bahwa setiap manusia pasti pernah berbuat salah, berbuat khilaf, dosa, baik sengaja, tak sengaja, berencana ataupun saat punya kesempatan.
Manusia adalah labirin rasa bersalah. Saling mencintai, menyakiti, lalu memaafkan. Saling membenci, menceritakan, lalu meminta maaf. Bahkan saling memuji di depan dan menghina di belakang, lalu memaafkan lagi. Begitulah cara kita memahami keberadaan kita di dunia, terus dan terus secara berulang-ulang. Baca; https://mirror.mui.or.id/berita/52564/sambut-idul-fitri-ini-dia-4-perintah-memaafkan-orang-lain-dalam-alquran/
Maka di momen Idul Fitri. Semuanya mengakui dalam hati tanpa perlu diucapkan dengan mulut. Bahwa kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Di mata orang lain, apalagi di mata Sang Pencipta. Kita, hanya seonggok daging yang sedang diberi kesempatan untuk hidup. Sambil menunggu giliran untuk “kembali” ke hadirat-Nya.
Kita memang bukan manusia sempurna. Selalu terjebak pada labirin rasa bersalah. Tapi kita tetaplah kita, yang selalu sadar atas salah dan khilaf diri sendiri. Mengakui, menyatakan, dan meminta maaf selalu. Untuk esok yang lebih baik lagi.
Mungkin, kita sering melihat orang yang banyak gaya tapi minim kontribusi. Bicaranya pandai seperti pengacara tapi sulit diandalkan. Pakaiannya branded tapi kamuflase. Bahkan mengaku hebat padahal tapi tak pernah tebar manfaat. Sebaliknya di sekitar kita, ada pula orang yang sederhana. Tidak banyak bicara tapi aksinya bermanfaat, empatinya bagus. Santai tapi selalu hadir saat dibutuhkan.
Bila hari ini kita ingin memperbaiki hidup, maka tidak perlu bertekad melakukan hal-hal besar. Lakukan saja hal kecil tapi baik dan bermanfaat. Mulailah dari dua hal sederhana: jadilah orang yang menyenangkan dan bermanfaat. Tidak usah banyak mengeluh dan jangan berprasangka buruk. Tidak usah sibuk mengurusi hidup orang lain, apalagi membandingkannya. Insya allah, perlahan hidup kita akan berubah dengan sendirinya. Menjadi lebih baik dan berkah.
Kini, momen untuk memperbaiki diri itu telah tiba. Ucapan maaf itu terucap berulang-ulang. Saatnya menata diri, Memperbaiki diri dan membiarkan persepsi di benak orang lain. Karena hidup, ujiannya memang berat. Tapi yakinlah, pertolongan Allah pasti dekat.
Sering kali kita lupa bahwa hidup bukan tentang terlihat keren di mata manusia, tetapi tentang menjadi berarti bagi sesama. Kebaikan tidak selalu harus besar dan megah. Kadang ia hadir dalam bentuk yang sederhana: menahan kata yang menyakitkan, membantu tanpa diminta, atau sekadar mendengarkan orang lain dengan tulus. Menjawab pesan di Gadget. Sapa dan senyum saat berjumpa. Dari hal-hal kecil seperti itulah hati kita dilatih untuk menjadi lebih lembut, lebih sabar, dan lebih bermakna. Baca; https://www.literasitinta.com/menjaga-tiga-kesalihan-pascaramadan/
Pada akhirnya, hidup ini bukan perlombaan untuk menjadi paling benar atau paling sempurna. Hidup adalah perjalanan belajar menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari. Selama kita masih mau memperbaiki diri, masih mau meminta maaf dan memaafkan, berarti harapan itu selalu ada. Sebab dalam setiap langkah perbaikan diri, di situlah sebenarnya kita sedang mendekat kepada rahmat dan kasih sayang Allah. Semoga Idul Fitri ini menjadi titik awal bagi kita semua untuk kembali pada hati yang bersih dan niat yang lebih tulus.
Belajar memaafkan saat Idul Fitri. Idul Fitri sejatinya bukan sekadar perayaan setelah sebulan berpuasa. Ia adalah ruang jeda bagi hati untuk kembali jernih, menata ulang niat dan arah hidup. Kita diingatkan bahwa sekuat apa pun manusia menutupi kesalahannya, hati kecil tetap akan tahu ke mana ia harus kembali. Maka memaafkan dan meminta maaf bukan hanya tradisi tahunan, tetapi cara kita membersihkan hati agar perjalanan hidup terasa lebih ringan dan penuh makna.
Karena itu, mari kita jaga semangat Idul Fitri ini tidak hanya berhenti pada hari raya. Biarkan ia hidup dalam sikap sehari-hari: lebih sabar dalam menghadapi orang lain, lebih ringan tangan dalam membantu, dan lebih santun dalam berkata. Sebab pada akhirnya, yang paling dikenang dari hidup seseorang bukanlah seberapa hebat ia terlihat, melainkan seberapa banyak kebaikan yang ia tinggalkan. Semoga langkah-langkah kecil kita menuju kebaikan selalu dipandu oleh cahaya rahmat-Nya.
Minal al idzin wal faidzin
Mohon maaf lahir dan batin